Faktual.id
Bisnis

Tari Kecak : Pencapaian Kemenangan karena Ketulusan Kasih dan Doa

Puluhan penari laki – laki bertelanjang dada dan duduk berbaris dengan pola melingkar dan dengan irama tertentu menarikan tari kecak. Mereka mengenakan kain khas Bali yang bermotif kotak – kotak seperti papan catur. Beberapa penari memerankan tokoh Rama, Shinta, Rahwana hingga Hanoman.

Di tahun 1930, Seniman Bali Wayan Limbak dan pelukis Jerman bernama Walter Spies menciptakan tarian ini. Terinspirasi cerita Ramayana dan dipadukan dengan kepercayaan Hindu. Tari Kecak pertama kali dipentaskan di lingkup desa. Pertama dipentaskan di Desa Bona, Gianyar.

Biasanya tari Kecak dipentaskan oleh sekitar 50 orang penari laki-laki. Mereka mengeluarkan suara “cak” bersama – sama namun berirama hingga menghasilkan musik akapela. Ada satu orang pemimpin yang memberikan nada dasar jadi seperti seorang konduktor dalam sebuah tim orkestra. Seorang lain memberikan tekanan nada tinggi dan rendah dan seorang lagi bertindak seperti dalang yang mengatur alur cerita.

Tahun 1979, tari Kecak pernah dimainkan oleh 500 penari namun di tahun 2006, rekor di ubah oleh kabupaten Tabanan yang menyelenggarakan Kecak kolosal dengan 5.000 penari.

Tari Kecak tidak menuntut pakem – pakem ketat untuk penarinya sperti banyak tarian daerah yang lain. Penari memiliki kebebasan dalam bergerak namun dituntut keharmonisan dari suara dari tiap para penari yang mengiringi alur cerita. Tarian ini disebut juga ritual sanghyang. Properti yang digunakan dalam tarian ini adalah bara api, bunga kamboja,  gelang kerincing, selendang hitam putih, topeng hingga tempat sesaji sehingga terkesan religius dan mistis.

Tarian ini mengekspresikan rituan sanghyang menolak bala yang diselipkan kisah Ramayana, yaitu pencarian Permaisuri Shinta, raja Rama yang dibantu Hanoman. Sang hero Hanoman menmporak porandakan dan membakar tempat penyekapan permaisuri Shinta. Awalnya Raja Rama mengalami kekalahan dalam proses menyelamatkan sang permaisuri, namun Raja Rama berdoa sungguh dan pada akhirnya berhasil menyelamatkan sang permaisuri dengan bantuan Hanoman. Moral story dari kisah dalam tarian ini adalah kasih yang tulus akan menang dengan doa dan usaha serta kesungguhan.

 

Penulis : Aris Waruwu – Mahasiswa STISIP Widuri

Related posts

Peresmian Posko Pemenangan KGN Provinsi Banten Oleh Jaya Tahoma Sirait

Tim Kontributor

Kelola Emosi Negatif dan Stress dengan Bijak

Tim Kontributor

Pentingnya Mengajarkan Anak Pendidikan Agama Sejak Dini

penulis

Leave a Comment