Faktual.id
POLITIK Sosial

Sosok Kartini Milenial, Orasi dengan Memegang Sebatang Rokok

Gelombang demonstrasi menolak UU Cipta Kerja Omnibus Law di sepanjang bulan Oktober serta di sejumlah daerah meninggalkan sebuah sosok, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa dia merupakan sosok kartini milenial.

 

Demonstrasi di sejumlah daerah menyisakan banyak cerita, kerusuhan, dalang, dan juga sosok mahasiswi yang berbicara lantang dengan memegang megafon di tangan kanan serta rokok di tangan kiri di tengah kobaran api dari pembakaran ban di tengah jalan.

 

Nabila Syadza namanya, orasinya memegang mikrofon dan sebatang rokok di tangan menjadi sorotan publik dunia maya. Orasinya yang dilakukan di Jalan Urip Sumoharjo, Makasar menuai banyak pujian di dunia maya.

 

Diketahui bahwa sosok Nabila Syadza merupakan mahasiswi Universitan Hassanudin Makassar yang terletak di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

 

Nabila Syadza merupakan mahasiswi dengan program studi kesehatan masyarakat yang terdaftar sebagai mahasisiwi Unhas (Universitas Hassanudin) sejak tahun 2017.

 

Meskipun menempuh studi di kota Makassar, Nabila Syadzas sebenarnya berasal dari kota Semarang, Jawa Tengah.

 

“Tendangan dibalas tendangan, darah dibalas darah” teriaknya, disambut oleh teriakan para perjuang demokrasi lainnya.

 

Penampilannya saat berorasi yang menuangkan pemikirannya tentang negri ini pun menjadi sorotan di dunia maya, diviralkan di media sosial Twitter oleh pengguna @hamdan_hamsya. Video pendek berdurasi 29 detik itu kini telah ditonton lebih dari 1,5 juta kali di Twitter.

 

Saat berorasi dalam aksi demo tersebut, penampilan rambut yang diikat, memegang megafon dan sebatang rokok serta menggunakan dengan kaos hitam dengan jelana jeans biru muda yang sobek menggambarkan kepribadiannya yang sederhana namun berani.

 

“Sasa” nama akrabnya, orasinya dianggap mewakili semangat perjuangan mahasiswa dalam membela masyarakat, buruh, dan termasuk para pejuang demokrasi. Dia pun sempat mengganti Pancasila dengan Pancasalah untuk menggambarkan situasi negri saat ini.

 

“Negara kita, yang katanya negara Pancasila, sekarang telah menjadi negara pancasalah! 1. Ketuhanan yang maha ormas, 2. Kemanusiaan yang adil bagi para birokrat, 3. Persatuan para investor, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat penindasan dalam permusyawaratan diktatornya, 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat kelas atas” teriaknya.

 

Karena orasinya, Najwa Shihab sebagai pembawa acara Mata Najwa sekaligus jurnalis senior juga penasaran terhadap sosok kartini milenial ini.

 

Sasa tidak menduga bahwa orasinya akan menjadi sorotan di media sosial pada demontrasi tolak Omnibus Law tersebut.

 

Sasa pun tidak keberatan dirinya menjadi perbincangan publik karena sudah tau resiko jika berani berorasi di khalayak umum, tetapi dia merasa risih karena banyak media yang mengungkapkan fakta lain dirinya di luar video tersebut.

 

Menurutnya, dirinya menjadi sorotan publik karena jarangnya sosok wanita berorasi di tengah aksi demonstrasi.

 

Karena dirinya menjadi sorotan di media sosial, akun instagramnya pun ramai diikuti oleh “netizen”, bahkan akunnya telah mencapi 178 ribu pengikut per 19 Oktober.

 

Namun akunnya tersebut telah dibajak oleh orang yang tidak bertanggung jawab, akun bernama @nabilasyadza.ss tersebut sudah tidak bisa diakses oleh Sasa hampir sebulan. Akun barunya yaitu @nabilasyadza.ss_ mengkomentari postingan di akun lamanya untuk melaporkan akunnya yang telah dibajak.

 

Selain dibajak, banyak juga akun plagiat yang mengatasnamakan dirinya untuk kepentingan pribadi.

 

Berdasarkan akun Instagram pribadinya, Sasa telah mengikuti beberapa kali turun aksi untuk menuntut keadilan bagi masyakakat kecil. Selain turun aksi tolak Omnibus Law, diriya juga terpantau pernah mengikuti tolak revisi UU KPK, menolak penggusuran Bara Baraya-Makasar, menolak UU Pertahanan, dan lainnya.

 

Dirinya dikenal sebagai pribadi yang supel, serta mudah bergaul dengan siapa saja. Tergambarkan oleh postingan Instagram pribadi miliknya yang acap kali berfoto dengan rekan-rekan lawan jenisnya.

 

Sasa termasuk mahasiswi aktif dalam hal organisasi, dia masuk ke dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai Mentri Hubungan Masyarakat.

 

Jiwa pemberaninya sudah dikenal luas oleh rekan-rekannya, tahun lalu dirinya viral karena pernah menantang satpam kampus karena melecehkan dirinya.

 

Karena jiwa dan kegiatan yang dilakukannya itulah banyak rekan-rekannya yang mengatakan bahwa Sasa merupakan aktivis kampus sejati.

 

Sosok dirinya yang sering mengenakan hijab tidak membatasinya untuk bergaul dengan siapa saja, bahkan Sasa dikenal sebagai perempuan tomboy di kalangan teman dekatnya.

 

Itulah sosok yang menjadi perbincangan bahkan motivasi bagi kaum kartini untuk jangan takut menyuarakan opininya jika terjadi hal-hal yang merugikan bagi banyak orang.

 

Sosok Sasa tersebut muncul sebagai “Kartini Milenial” di tengah gelombang penolakan UU Cipta Kerja Omnibus Law yang menurut sebagian orang dapat merugikan kaum buruh, pekerja, termasuk pegawai.

Sumber

“Tulisan ini adalah bagian dari tugas dab pembelajaran kelas Manajemen Media Digital. Apabila ada kesalahan atau kekurangan mohon dimaafkan” – Biladi Muhammad Wiragana/MMD5

 

Related posts

Haruskah Mahasiswa Berdemonstrasi Di Masa Pandemi?

penulis

AKSI DEMO PARA BURUH DI DAERAH DAAN MOGOT

Tim Kontributor

Mahasiswa terlibat unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja yang baru di sah kan oleh pemerintah

penulis

Leave a Comment