Faktual.id
EKONOMI

Sektor UKM di Indonesia semakin kacau akibat dampak COVID-19

Pada pandemi virus Covid 19 bukan hanya sekedar berpengaruh terhadap bidang pendidikan  kesehatan, virus yang dikenal sebagai Cobid-19 ini telah menimbulkan kekacauan di sektor ekonomi. Pandemi virus Covid 19 telah membuat pelaku industri besar dan UKM di Indonesia mulai gelisah.

Terlebih baru-baru ini, sebuah studi menyebut jika Covid-19 akan membuat Indonesia mengalami penurunan persentase pertumbuhan ekonomi sebesar 0.1% di tahun 2020. Secara garis besar, berikut merupakan dampak nyata yang disebabkan Covid-19 terhadap sektor UKM di Indonesia.

Pertama, dampak pada omzet penjualan. Hasil riset BI melaporkan bahwa tingkat penurunan yang terjadi pada rata-rata penjualan produk UMKM adalah sebesar 50%. Penyebab terjadinya penurunan ini disampaikan oleh LIPI sebagai dipengaruhi oleh keputusan 58,8% UMKM untuk menurunkan harga produk dan jasanya untuk tujuan mempertahankan usaha sehingga keuntungan turun lebih dari 75%.

 

Kedua, dampak pada permodalan. Menurut penjelasan Menteri Koperasi dan UKM yang disampaikan di pertengahan Agustus 2020, bahwa 40% UMKM telah gulung tikar sebagai imbas sulit mendapatkan modal kembali akibat Pandemi Covid-19. Angka ini muncul sebagai dipengaruhi 2 faktor, yaitu: a) tutup karena tidak bisa mendistribusikan produk barang atau jasa, dan b) tutup karena alasan mematuhi perintah PSBB dan penjarakan sosial. Hasil riset juga melaporkan bahwa sebanyak 19.93% dari total UKM yang ada, mencoba untuk tetap bertahan di tengah pukulan Pandemi Covid-19 kendati mengalami kesulitan modal. Untuk keperluan efisiensi, mereka terpaksa melakukan PHK terhadap karyawannya sehingga jumlah produksinya juga menurun.

 

Ketiga, dampak pada distribusi. Riset dari Kemenkop UKM melaporkan bahwa sebanyak 20,01% UMKM mengaku mengalami hambatan distribusi akibat kebijakan PSBB. Penurunan akibat PSBB ini juga terjadi pada permintaan produk dan dialami oleh total 22,90% UMKM. Alhasil, berdasarkan riset terakhir ini total ada kurang lebih 62,84% UMKM sebagai yang terkendala pandemi dengan indikasi keluhan terjadi pada sektor distribusi, penurunan keuntungan penjualan dan kesulitan modal. 40% sisanya (37,16%), merupakan angka yang dilaporkan sebagai telah gulung tikar. Ada beberapa sebab kemungkinan gulung tikar itu. Penyebab yang paling dominan, adalah dipengaruhi ketiadaan permintaan dari pasar.

 

Inilah data keterpengaruhan UMKM selama berlangsungnya pandemi Covid-19 di Indonesia yang berhasil penulis rangkum dari berbagai sumber instansi terkait. Uniknya, dari kesekian sektor UMKM yang terdampak, UMKM sektor pertanian justru yang paling bertahan dengan catatan keterpengaruhan terhadap pandemi sebesar 41.5% (menurut BI). Namun kuat diduga bahwa hal itu disebabkan karena sektor pertanian tidak banyak bersinggungan secara langsung dengan pandemi Covid-19. Mereka hanya bermasalah saat pemasaran produk saja. Mereka dapat bertani, namun soal harga produk, hal itu dipengaruhi oleh permintaan pasar.

 

Selain itu, pertanian juga menempati ruang kebutuhan pokok, sehingga menjadi penyokong kebutuhan masyarakat. Masyarakat bisa menghindar dari kebutuhan lain, namun tidak bisa menghindar dari produk pertanian, sebab merupakan kebutuhan pokoknya. Jika dalam rangka memenuhi permintaan ternyata ada hambatan pada wilayah jalur distribusinya, maka secara tidak langsung PSBB merupakan yang paling pertama harus dituduh telah menyebabkan sektor pertanian ini terpengaruh pandemi Covid-19.

 

Penulis :Heru maiza ibrahim

Related posts

Indonesia Masuk 10 Negara Pengutang Terbesar

Tim Kontributor

Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemic Diharapkan Dimulai Dari Kampus

penulis

Keluh kesah pedang Martabak di manggarai karena aturan PPKM

penulis

Leave a Comment