Faktual.id
RAGAM INFO

RSUD Cipayung Dituduh ‘Mengcovidkan’ Pasien

Sebuah video dari akun @tirtasiregar beredar di Tiktok, dengan tudingan RSUD Cipayung ‘mengcovidkan’ pasien. Pihak RSUD Cipayung meluruskan, pasien yang dimaksud dalam video tersebut memang datang ke rumah sakit dengan hasil negatif COVID-19 dari tes antigen 5 hari sebelumnya.
Namun lantaran gejala pasien tersebut batuk dan sesak, disertai ada riwayat komorbid hipertensi dan asma, rumah sakit menganjurkan tindak lanjut berupa tes COVID-19 antigen ulang dan PCR.

“Berdasarkan pemeriksaan dokter, mempertimbangkan kondisi pasien saat itu, dengan perjalanan sakit yang telah satu minggu, ditambah lagi pasien yang berusia lanjut serta mempunyai penyakit komorbid hipertensi dan asma, maka dokter merencanakan untuk melakukan pemeriksaan dengan rapid antigen ulang sekaligus akan dilakukan pemeriksaan PCR,” ujar Direktur RSUD Cipayung, dr Ekonugroho Budhi Prasetyo, dalam siaran pers Pemprov DKI, Minggu (20/2/2022).

“Hal ini semata-mata agar pasien mendapat penanganan yang sesuai dengan jenis sakit dan kebutuhan pengobatannya,” imbuhnya.

Apa fungsi tes ulang?
Dijelaskan, pemeriksaan ulang COVID-19 bertujuan memastikan tempat perawatan sesuai, agar pasien COVID-19 tidak bercampur dengan pasien non-COVID-19. Untuk itu, pihak RS meminta persetujuan lebih dulu kepada pihak keluarga pasien.

Namun dalam kasus yang dilaporkan @tirtasiregar, keluarga pasien menganggap prosedur permintaan persetujuan RS adalah upaya ‘mengcovidkan’. Keluarga kemudian menolak mengikuti prosedur penanganan pasien dari RSUD Cipayung dan membawa pasien pulang.

Kemampuan alat untuk memastikan seseorang terkena COVID-19 berbeda seiring perjalanan atau tahap-tahap penyakit. Secara umum, pemeriksaan PCR mempunyai tingkat akurasi paling tinggi sehingga menjadi acuan utama untuk penegakan diagnosis COVID-19.

Sedangkan metode pemeriksaan rapid antigen yang dilakukan pada tahap awal sakit bisa jadi masih menunjukkan hasil negatif meski seseorang sudah terinfeksi virus Corona. Pasalnya, jumlah virus dalam tubuh masih terlalu rendah untuk bisa dideteksi oleh tes rapid antigen. Pada kondisi tersebut, virus hanya bisa terdeteksi dengan tes PCR.

Dalam beberapa hari, jumlah virus dalam tubuh sudah bertambah banyak sehingga baru bisa terdeteksi baik dengan tes rapid antigen maupun PCR. Kondisi ini sering ditemukan sehingga pada banyak kasus, diperlukan pemeriksaan ulang untuk memastikan seseorang terjangkit COVID-19 atau tidak.

Disarikan oleh P.

SUMBER

Related posts

Terkuak Berikut Alasan BBM Premium Sulit Banget Dihapus

Tim Kontributor

Legislator PDIP Usul Kampanye Pemilu Jadi 75 Hari

Tim Kontributor

Terjadi Kebakaran Lapas di Tangerang yang Berlangsung 2 Jam

Tim Kontributor

Leave a Comment