Faktual.id
Bisnis

Seseorang Ibu Bukan Hanya Karena Dia melahirkan

Andaikata saya belum mempunyai anak, andaikata saya bukan seorang nenek, maka saya tidak akan berani menurunkan tulisan ini. Banyak cerita yang menggambarkan bagaimana seorang anak menderita dalam kehidupannya karena dia mendurhakai ibunya ataupun orang orang tuannya. Umpamanya tentang si Malingkundang yang berubah menjadi batu itu. Begitulah, maka hampir di seluruh dunia ibu-ibu memiliki semacam hari yang disebut” hari ibu”. Semuanya ini maksudnya untuk memperingatin kebaikan seorang ibu.

Tapi bagaimana dengan anak-anak itu sendiri? Seringkali seorang anak merasa asing dirumahnya sendiri. Bukan hanya ada satu cerita saja mengenai bagaimana seorang ibu menyiksa anaknya. Dan dalam hal seperti ini, pasti si anaklah yang selalu disalahkan. Mana mungkin dia disiksa ibunya kalau dia tidak bersalah? Kalau ibu sendiri yang menyiksa, itu adalah lumrah, dan pasti itu terjadi karna anaknya berlaku kurang ajar. Saya pernah melihat bagaimana seorang ibu memperlakukan anak perempuannya, seperti budak belian. Anaknya ini mesti beristirahat. Akhirnya anak ini melarikan diri, dan ibunya memberi kutukan:’Nanti lihat, bakalan tidak selamat … dia kurang ajar sama ibunya, bakalan tidak selamat, tapi dari pada ribut dengan suami, maka anaknya itu diumpat-umpat, katanya: “Memang bandel,sudah mama bilang jangan pergi… pergi saja”. Sedangkan ibunya tahu benar bahwa anak itu tidak melakukan sesuatu yang melanggar. Sedangkan ayam, berusaha melindungin anak-anaknya, apalagi seorang ibu yang bukan ayam. Menjadi seorang ibu, bukan hanya karena kenyataan bahwa dia sudah banyak hal-hal yang lain, yang membuat dia diberi gelar seorang ibu. Kata “IBU” dikait-kaitkan dengan sesuatu yang indah, yaitu kemesraan dan kasih sayang antara anak dan ibu. Tapi beberapa banyak saja anak-anak yang menderita, karena perlakuan tidak pantas oleh ibu-ibu mereka. Karena apapun yang dikatakan seorang anak, apabila itu mengandung unsur negatif mengenai “ibu” pastilah anak itu yang disalahkan. Saya malahan melihat dan mendengar bagaimana seorang ibu seenaknya dalam amarahnya yang tidak beralasan lantas mengutuk anaknya. “Biar kau tidak selama seumur hidup. Tahu nggak, surga itu ada di telapak kaki ibu.

Saya sungguh ngeri melihat tindak-tanduk ibu ini, dan benar saja, anaknya yang kena sumpah ini kehidupannya seterusnya tidak keruan. Apakah karena sumpah oleh ibunya, atau entah bagaimana…. saya sendiri tidak tahu. Tapi semua mengatakan bahwa dia kena sumpah ibunya. Saya bertanya diri sendiri “Bagaimana mungkin ada ibu yang sekejam itu?” Tapi memang demikianlah, seorang ibu hanya manusia biasa juga… ibu rasa, jangan mentang-mentang surga ada dibawah telapak kaki ibu lantas seenaknya saja memperlakukan surga itu. Dan kalau anak-anak mau ke surga.., mereka mesti taat, mesti tunduk tanpa reserve. Saya sendiri sebagai ibu, merasa, bahwa kewajiban kita untuk menciptakan suasana, agar jalan ke surga yang berada di bawah telapak kaki kita, jangan terlalu di persulitkan. Sehingga anak-anak kita mesti merangkak-merangkak menuju kesana. Dan sebagai ibu, jangan lalu lancang mulut menyumpahi anak.

Jangan lah kita mentang-mentang surga ada di telapak kaki ibu .. bersikap serupa ini, akan menghasilkan anak-anak yang durhaka. Sikap kita, suasana yang kita buat, malah dapat menciptakan anak-anak itu menjadi durhaka.

Penulis: Marla Bagas Putra Mahasiswa Widuri STISIP

Related posts

Peran pemerintah untuk membantu perekonomian Indonesia yang semakin sulit

Tim Kontributor

Lawan Insecure Jadi Bersyukur!

Tim Kontributor

Nita Thalia Melakukan Operasi Plastik agar Suami Setop Selingkuh

Tim Kontributor

Leave a Comment