Faktual.id
KOMUNIKASI RAGAM INFO

Gugur, Tewas, Hilang, dan Meninggal Dunia

Media kita ini sering rancu atau salah kaprah dalam menulis berita, atau sebenarnya malas mencari referensi. Ini sering terjadi. Padahal di susunan redaksi itu ada reporter, redaksi pelaksana dan ada pemimpin redaksi. Di media besar bahkan ada kepala desk, yang membawahi para reporter khusus, misalnya desk ekonomi, desk hukum dll. Jadi seharusnya akan banyak filter.

Contoh simpel, pernah saya baca ada media yang menulis “Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Papua, Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Nugraha Karya tewas ditembak KKB di Papua”. Kemudian ada juga berita “53 awak KRI Nanggala-402 dinyatakan telah gugur”. Dua berita ini, jika mengacu pada peraturan maka penyebutannya terbalik. Kabinda Papua harusnya ditulis “Gugur Ditembak KKB”. Sedangkan awak KRI Nanggala-402 dinyatakan hilang, atau dalam pencarian, atau dinyatakan “tewas” setelah ada bukti atau penampakan visual.

Pemberian status antara gugur, tewas, hilang dan meninggal dunia ini sudah ada aturan bakunya untuk TNI dan Polri termasuk ASN.
1. Status gugur diberikan kepada anggota yang meninggal dunia karena sedang melaksanakan tugas dan akibat tindakan langsung lawan atau yang menentang negara/pamerintahan yang sah. Lawan ini bisa diartikan sebagai musuh.
2. Status tewas diberikan kepada anggota yang meninggal dunia karena sedang melaksanakan tugas tetapi bukan karena akibat tindakan lawan, atau tidak sedang melaksanakan tugas namun sebagai akibat tindakan langsung lawan.
3. Status hilang diberikan kepada anggota dengan ketentuan sedang melaksanakan tugas namun tidak diketahui keberadaannya. Status hilang ini diberikan setelah dilakukan upaya pencarian selama satu tahun namun tidak ditemukan.
4. Meninggal dunia apabila tidak memenuhi persyaratan status gugur, tewas dan hilang.

Salah satu peraturan tentang penyebutan status ini adalah “Peraturan Kapolri No. 22 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penentuan Status Gugur, Tewas, Hilang dan Meninggal Dunia Biasa Dalam Tugas Bagi Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.” Sedangkan untuk Prajurit TNI termuat dalam Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia No. 13 Tahun 2017 tetang status Gugur atau Tewas bagi Prajurit TNI.

Jadi untuk Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Nugraha Karya yang kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi Mayjen Anumerta itu sesuai point nomer satu disebut dengan gugur, karena meninggal dunia karena ditembak musuh. Sedangkan untuk awak KRI Nenggala-402 setelah kemudian ada visual dari ROV (Remote Opration Vehicle) kapal MV Swift Rescue milik Singapura baru bisa dinyataan tewas. Atau bisa dinyatakan gugur, misalnya kemudian KRI Nenggala-402 ini ternyata tenggelam karena ditembak oleh terpedo kapal selam milik Prancis, misalnya.

Jadi ini yang harus dicermati, jika Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahyanto menyatakan awak KRI Nanggala-402 gugur, mengacu pada Permenhan 13/2017 maka ini steatment yag salah. Apakah KRI Nanggala-302 tenggelam ditorpedo musuh? Karena KRI Nanggala-402 ini sedang tidak berperang, dan tidak ada musuh di kawasan Laut Bali. Gugur ini steatmen Panglima atau wartawannya salah tulis?

Polri sendiri juga sempat salah memberikan status, tapi ini bisa dimaklumi, karena pada waktu itu terjadi bencana alam tsunami di Aceh. Seorang anggota Brimob, Bharaka Asep waktu itu dinyatakan tewas di Aceh. Keluarganya juga sudah menganggap Asep meninggal, melakukan tahlilan, dll, baru pada Maret 2021 ternyata Asep ditemukan masih hidup dan berada di Rumah Sakit Jiwa Zaenal Abidin NAD. Status Asep harusnya waktu itu bukan dinyatakan meninggal tetapi “hilang”. Dan selama pencarian sampai satu tahun ini, sampai dinyatakan meninggal, hak-haknya sebagai anggota Brimob tetap diberikan.

Diluar itu semua, marilah kita sejenak menundukkan kepala dan berdoa buat Mayjen (Anumerta) TNI I Gusti Putu Danny Nugraha Karya yang gugur dalam tugas di Papua, juga buat ke 53 awak KRI Nanggala-402 yang tewas tenggelam di laut Bali. Yang jelas, mereka semua Syahid, Martir.

zhie.ahmadd

Related posts

“Harga Sahamnya Melonjak, Pria Ini Langsung Jadi Orang Terkaya ke-12 di Indonesia”

Tim Kontributor

Bupati Sleman Positif Covid Setelah Divaksin, Seketika Masyarakat Ragu Terhadap Vaksin

Tim Kontributor

Pertemuan Seorang Ayah dengan Anaknya Setelah 12 Tahun Terpisahkan

Tim Kontributor

Leave a Comment