Faktual.id
KOMUNIKASI

Genre Itu Bernama, Indie?

Jakarta – Dalam 6 tahun terakhir, semakin banyak kalangan penikmat musik yang ‘melek’ dengan kehadiran musisi indie di Indonesia, ya setidaknya untuk kalangan anak muda. Apalagi ketika musisi yang bermodalkan instrumen gitar, vocal aduhai, serta barisan kata nyentrik nan menyentuh, tak jarang disebut sebagai ‘indie’.

Ini belum termasuk gaya ala hipster yang seolah-olah menentang keseragaman penampilan maupun selera dengan banyak orang. Setidaknya pemahaman-pemahaman itu lah yang menjadi standar untuk para pendengar latah segera memberi cap pada musisi pujaannya. Apakah salah? Tidak juga, hanya saja pelabelan indie atas sebuah musik maupun gaya seseorang jelas bukan hal yang tepat.

Nyatanya indie sendiri berasal dari bahasa Inggris, yakni independent dan memiliki arti ‘mandiri’ dalam bahasa Indonesia. Dari sini, jelas kalau independent merupakan spirit atau semangat seorang pelaku seni yang berusaha mengedarkan karya-karyanya tanpa harus bergantung pada orang lain maupun instansi misalnya.

Melirik pada sektor musik dan berbekal dari referensi pribadi, semangat tersebut sebenarnya sudah ditunjukkan oleh para musisi punk di masa lalu yang terus hidup dan menular pada sub-musik lainnya sampai hari ini. Apalagi ide yang ditawarkan dalam setiap musiknya jelas bukan sesuatu yang akan diterima banyak orang atau malah dianggap terlalu keras, meskipun ada sisi benarnya. Tidak heran jika pada akhirnya mereka memutuskan untuk merekam dan merilis karyanya sendiri.

Sedangkan di masa sekarang, indie dapat digunakan sebagai kata pembeda antara pelaku seni musik yang bekerja secara mandiri dengan mereka yang tergabung dalam major label. Begitu pun sudut pandang dalam berbisnis, rata-rata mereka yang mengambil jalur indie tak terlalu memikirkan bagaimana cara agar karya-karyanya bisa laku keras.

Memang saat ini musisi yang mengambil jalur indie pun mulai membangun pasarnya secara masif dan bergerak dengan cara yang tidak jauh berbeda seperti major label, namun setidaknya semangat maupun ide yang ditawarkan lah yang seharusnya pas untuk disebut independen. Ya, bukan sekedar mencap dari musik atau bahkan penampilan.

Penulis : Rian Wahyudi Putra Nteseo, Mahasiswa STISIP WIDURI

Related posts

Tak Kebagian Obat Isoman COVID-19? Tak Perlu Panik, Ini Pesan Ahli Farmasi

Tim Kontributor

Ramalan Mbak You tentang 2021

Tim Kontributor

Singapura Mau Lepas Resesi, tapi Dolarnya Kalah sama Rupiah

Tim Kontributor

Leave a Comment