Faktual.id
Komunikasi Politik POLITIK

Jokowi Revisi Aturan Menteri dan Walikota Yang Ikut Pilpres Tak Harus Mundur, Terimakasih Ayah

Presiden Jokowi mengeluarkan perintah baru perihal cuti menteri, gubernur, wali kota, dan pejabat yang berkampanye pada Pemilu 2024. Hal itu tertuang dalam Keputusan Presiden (PP) Nomor 53 Tahun 2023.
Dalam keputusan tersebut, Jokowi mewajibkan cuti kepada para menteri dan staf kementerian, hingga kepala daerah, untuk berkampanye. Mereka tak akan mundur, hal ini terkait dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).
“Menteri dan pejabat setingkat menteri, gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, wali kota, dan wakil wali kota yang melaksanakan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus menjalankan cuti,” tulis salinan beleid, dikutip Jumat (24/11)
Hal itu berlaku di hari kerja. Di hari libur, mereka tak perlu mengajukan cuti.
Spesifik untuk pejabat yang menjadi capres atau cawapres, permohonan cuti ada tata caranya. Mereka harus diajukan paling lambat 7 hari sebelum hari kampanye.
Sementara untuk anggota parpol atau tim kampanye, cuti diajukan paling lambat 12 hari sebelum hari kampanye.
“… Cuti selama 1 (satu) hari kerja dalam 1 (satu) minggu pada masa Kampanye Pemilihan Umum,” bunyi pasal 36 ayat (1) PP tersebut.
Sebelumnya, MK mengabulkan permohonan Partai Garuda tentang keharusan mundur bagi menteri yang akan maju sebagai calon presiden atau calon wakil presiden.
Ketentuan yang digugat itu tertuang dalam pasal 170 Ayat 1 UU Pemilu, sebagai berikut:
(1) Pejabat Negara yang dicalonkan oleh Partai Politik Peserta Pemilu atau Gabungan Partai Politik sebagai calon Presiden atau calon Wakil Presiden harus mengundurkan diri dari jabatannya, kecuali Presiden, Wakil Presiden, Pimpinan dan anggota MPR, Pimpinan dan anggota DPR, Pimpinan dan anggota DPD, Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati Walikota dan Wakil Walikota.
Penjelasan Pasal 170 ayat (1) UU 7/2017 berbunyi:
“Yang dimaksud dengan “pejabat negara” dalam ketentuan ini adalah:
a. Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung
b. Ketua, Wakil Ketua, dan Hakim pada semua badan peradilan kecuali Hakim ad hoc
c. Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Mahkamah Konstitusi
d. Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan
e. Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Komisi Yudisial
f. Ketua dan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi
g. Menteri dan pejabat setingkat Menteri
h. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa penuh; dan
i. Pejabat Negara lainnya yang ditentukan oleh undang-undang”.
Atas permohonan itu, MK membatalkan keharusan menteri yang ingin menjadi capres atau cawapres mundur dari jabatannya. Melainkan cukup mengajukan izin kepada presiden.
“Mengabulkan permohonan pemohon untuk sebagian,” bunyi putusan MK yang diketuai Anwar Usman dikutip Selasa (1/11).
Disarikan Oleh ARS

Related posts

Menanggapi Kekecewaan Jokowi Atas Ketidakmampuan Capresnya Dalam Debat Ketiga, Pengamat Ini Meminta Untuk Jangan Melodrama

Tim Kontributor

Bagaimana Ngarepnya PSI untuk Berkoalisi Dengan Gerindra

Tim Kontributor

Akibat Baliho Caleg PSI Yang Terlalu Besar Ini, Mengakibatkan Seorang Pengendara Motor Tertimpa

Tim Kontributor

Leave a Comment