Jakarta – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan setelah dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di level tinggi. Berdasarkan data perdagangan yang dipantau pada Kamis (11/6/2026), kurs USD/IDR berada di kisaran Rp17.930,7 per dolar AS, atau menguat sekitar 0,50 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa dolar AS masih mempertahankan tren penguatan yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Dalam periode satu bulan, USD/IDR tercatat naik hampir 3 persen, sementara dalam enam bulan terakhir penguatannya telah mencapai lebih dari 7 persen.
Secara teknikal, pergerakan dolar AS sempat mendekati area Rp18.000 sebelum mengalami koreksi terbatas. Namun koreksi tersebut belum mengubah kecenderungan pasar yang masih menempatkan dolar pada posisi relatif kuat terhadap rupiah.
Pengamat menilai area Rp17.900 kini menjadi level penting yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya. Selama kurs bertahan di atas level tersebut, peluang pengujian kembali terhadap area psikologis Rp18.000 masih terbuka.
Di sisi lain, level Rp18.000 hingga Rp18.050 dipandang sebagai zona resistensi terdekat yang perlu ditembus untuk membuka ruang penguatan lebih lanjut. Apabila level tersebut berhasil dilewati, pasar berpotensi mengarahkan perhatian pada kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200.
Kondisi ini mencerminkan masih kuatnya sentimen global yang mendukung aset berbasis dolar AS. Ketidakpastian ekonomi internasional, pergerakan arus modal global, serta ekspektasi terhadap kebijakan moneter negara-negara utama dunia menjadi faktor yang terus memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Meski demikian, stabilitas rupiah dalam beberapa waktu ke depan tetap akan sangat dipengaruhi oleh respons kebijakan domestik, kinerja ekspor, arus investasi, serta perkembangan kondisi ekonomi global.
Dalam jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati kemampuan rupiah bertahan di tengah tekanan eksternal, sekaligus menunggu sinyal baru yang dapat menentukan arah pergerakan kurs pada paruh kedua tahun 2026.
