Faktual.id
RAGAM INFO

Politisi-Kerabat Polisi Disebut dalam Sidang Korupsi Masker di Banten

Sidang korupsi masker COVID-19 senilai Rp 3,3 miliar di Pengadilan Tipikor Serang, pada Rabu (1/9), menghadirkan saksi dari unsur pejabat Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten. Muncul nama politisi lokal sekaligus anggota DPRD dan terdakwa yang disebut-sebut masih kerabat di lingkungan Polda Banten.

Soal politisi itu disampaikan saksi Ujang Abdurohman, selaku tim pendukung PPK dan pendukung pertanggungjawaban. Diketahui bahwa PT Right Asia Medika (RAM) berubah akta direksi dari Ari Winanto ke terdakwa Wahyudin Firdaus.

Perubahan akta itu ada di profil perusahaan saat PT RAM menawarkan harga masker. Penawaran pertama, posisi direktur perusahaan dipimpin oleh Ari. Namun, ada revisi penawaran dari PT itu dengan perubahan direksi yang dipimpin terdakwa Wahyudin. Nilai penawarannya adalah Rp 200 ribu per buah.

“File yang saya terima¬†company profile¬†dan surat penawaran. Awalnya tanda tangan Ari Winanto,” ujar Abdurohman di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (1/9).

Di persidangan, nama Ari memang tidak disebut bahwa ia adalah politisi dari Kota Serang. Namun, begitu saksi keluar, wartawan menanyakan apakah Ari Winanto ini adalah politisi dari PAN dan ia membenarkan.

“Iya katanya dari partai itu,” ujarnya.

Perubahan akta perusahaan ini juga hanya beberapa hari sebelum tender diberikan ke PT RAM oleh Dinkes. Di persidangan juga terungkap bahwa terdakwa dari PT RAM disebut-sebut kerabat dari lingkungan Polda. Hal ini terungkap berdasarkan kesaksian Khania Ratnasari saat bertemu dengan terdakwa Agus Suryadinata sebagai utusan PT RAM.

Di hadapan majelis hakim Tipikor Serang yang dipimpin Slamet Widodo, Khania selaku Kasi Farmasi dan Pangan Dinkes Banten mengatakan informasi ini bermula dari pertemuan dengan terdakwa Agus yang mengajukan penawaran harga masker per buah Rp 220 ribu. Terdakwa itu adalah yang melakukan penawaran atas nama PT RAM.

“Ada kabar bahwa dia masih kerabatnya ini, kerabat dari orang Polda. Ketika saya tahu Pak Agus dibawa ke lantai atas di pertemuan pertama. Itu siapa? Kata saya. Katanya, saudaranya si anu,” ujar Khania.

Jadi, terdakwa Agus datang ke Dinkes itu diantar oleh Kasubag Umum Kepegawaian. Dia kemudian bertanya ke Kasubag itu. Di situlah dijelaskan bahwa terdakwa disebut-sebut orang yang punya hubungan dengan Polda. Namun, saksi tidak menyebut secara gamblang hubungan terdakwa dengan orang Polda itu.

“Terus (kata) Kasubag Umum, dia saudaranya salah satu orang Polda,” ujarnya.

Ia mengaku, informasi bahwa orang dari PT RAM adalah suruhan dari orang yang berkerabat dengan lingkungan Polda tidak disampaikan ke Kadinkes Ati. Ia hanya mengatakan bahwa salah utusan dari PT RAM datang untuk penyediaan masker sebanyak 15 ribu buah dengan harga satuan Rp 220 ribu.

Lalu, saksi mengatakan informasi bahwa terdakwa punya hubungan dengan orang Polda pun disampaikan melalui WhatsApp kepada saksi Ujang Abdurohman sebagai tim pendukung PPK dan selaku pembuat surat pertanggungjawaban. Tapi, ia mengaku tidak melaporkan ini ke pimpinannya.

“Saya tidak pernah lapor ini orang Polda atau gimana, saya nggak pernah lapor,” ujarnya.

Saksi Abdurohman juga mengaku bahwa Wahyudin Firdaus sebelumnya adalah marketing dari PT RAM. Namun, saat pengadaan masker COVID-19, namanya berubah menjadi direktur menggantikan nama Ari Winanto.

“Karena Wahyudin Firdaus mengerjakan alkes UPT Malingping,” ujarnya.

Sedangkan terdakwa Agus, ia juga tahu bahwa ia adalah sebagai pengantar barang. Informasi itu juga berdasarkan catatan di proyek yang dikerjakan PT RAM di 2019 di Dinkes.

SUMBER

Related posts

Suasana Rutan Serasa Dipesantren Setelah Habib Rizieq Menjadi Tahanan Bareskrim

Tim Kontributor

Teh Hijau Untuk Menurunkan Berat Badan

Tim Kontributor

Sri Mulyani : RA Kartini Berjuang Cari Ilmu Tapi Rakyat Sekarang Enggan Mendapatkan Ilmu

Tim Kontributor

Leave a Comment