Faktual.id
Bisnis EKONOMI

Oemah Sruput Pada Masa Pandemi

Corona virus disease 2019 (Covid-19) merupakan jenis virus yang pertamakali ditemukan diwilayah Wuhan,Tiongkok pada Desember 2019. Virus ini menyerang saluran pernapasan ditandai dengan batuk,sesak napas hingga demam. Namun pada sebagian orang yang terinfeksi tidak disertai tanda-tanda tersebut sehingga tidak menyadari bahwa telah tertular covid 19. Hal itu tentunya tergantung pada kekebalan tubuh setiap orang. Pada usia yang relatif muda atau bahkan anak-anak cenderung jarang tertular karena memiliki sisitem imun yang baik,lain hal nya pada usia 45 tahun keatas dibeberapa kasus sering dijumpai pasien yang terpapar covid 19 karena sistem imun yang menurun seiring dengan bertambahnya usia.

Dalam menyikapi penyebaran Covid 19 yang makin meningkat pemerintah pusat bersama pemerintah daerah membuat kebijakan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau yang disingkat dengan PSBB agar menekan penyebaran virus tersebut. Kebijakan itu mengatur kegiatan ekonomi dan kegiatan sosial masyarakat dengan menutup fasilitas publik seperti Mall, tempat rekreasi,bioskop, tempat karaoke,tempat ibadah dan lain sebagainya. Sementara terdapat beberapa industri yang dikecualikan boleh beroperasi guna memenuhi kebutuhan pokok masyarakat seperti kesehatan,bahan pangan,energi,komunikasi dan teknologi informasi,keuangan,logistik,perhotelan, konstruksi,industri strategis,pelayanan dasar dan kebutuhan sehari-hari.

Industri makanan dan minuman atau F&B merupakan salah satu sektor yang terkena imbas dari pandemi covid-19. Dilarangnya interaksi sosial dimasyarakat dalam jumlah besar seperti mengadakan perkumpulan selama PSBB turut mempengaruhi penurunan penjulan makanan dan minuman yang sangat tajam. Selama ini kalangan muda senang berkumpul di Café dan restaurant untuk sekedar berkumpul dengan temannya, sebagian orang ada yang menghabiskan waktu weekend nya bersama keluarganya di Mall dan restaurant namun itu tidak diperbolehkan karena aturan PSBB yang melarang konsumen untuk makan ditempat tetapi hanya boleh dibungkus, diantar atau melalui layanan drive thru disebagian restaurant. Ini tentu mempengaruhi konsumen yang ingin makan ditempat atau dine in karena ingin menikmati suasana restaurant.

“Oemah Sruput” merupakan salah satu resto yang bergerak di bidang F&B. Pada masa pandemi “Oemah Sruput” tetap menerapkan dine in atau makan ditempat tetapi dengan tetap mematuhi protokol yang ada seperti mengurangi jumlah pengunjung, pengecekan suhu tubuh sebelum memasuki area resto, mencuci tangan serta menyemprotkan desinfektan setelah konsumen meninggalkan tempat duduknya. Penurunan jumlah pendapatan perhari pun dirasakan oleh pemilik resto, beliau menganggap ini hanyalah salah satu cobaan yang dirasakan bersama teman- teman resto lain yang mengalami hal serupa juga.

Penurunan pendapatan ini memanglah cukup ekstrem karena sebelum pandemi pemilik resto mengatakan bisa mendapatkan penghasilan hingga sekitar 70 juta per bulan, tetapi pada masa pandemi “Oemah Sruput” hanya dapat mengantongi sekitar 30 juta per bulan. Oleh sebabnya dari penurunan omset bulanan ini pemilik memilih untuk melakukan jalan tengah agar bisnis tidak mati yaitu dengan menurunkan gaji 6 karyawannya yang dimana keputusan tersebut sangat berat diambil karena kurang mensejahterakan karyawan. Tetapi apa boleh buat ketika pemilik diberikan pilihan untuk melakukan pemecatan salah satu karyawannya atau menurunkan gajinya, karena pemilik “Oemah Sruput” sendiri sudah sangat dekat dengan team dan menganggap karyawan sebagai keluarga sendiri oleh karena itu dipilihlah jalan untuk melakukan penurunan gaji yang tidak terlalu besar agar karyawan tetap betah untuk bekerja di “Oemah Sruput” ini.

Penerapan Work from home (WFH) bagi pekerja membuat konsumen memilih untuk mengkonsumsi makanan yang mudah dimasak dan instan seperti makanan beku atau frozen food, mie instan dan lain-lain. Keinginan konsumen untuk memperoleh makanan yang praktis dan mudah disaat terbatasnya untuk bepergian akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) turut mendorong konsumen membeli produk-produk itu, selain itu keunggulan lainnya makanan tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang sehingga bisa dimasak kapan saja. Tetapi WFH tersebut tidak berlaku bagi resto yang selain menjual makanan dan minuman juga menjual tempat serta suasana untuk dikunjungi, oleh karena itu penurunan untuk resto yang memang di desain untuk dine in seperti “Oemah Sruput” sangatlah drastis dibandingkan dengan beberapa resto yang memang di desain untuk take away atau grab and go.

Ananda Agusta, Mahasiswa Stisip Widuri

Related posts

Ramai Saat Jam Makan Siang, Inilah Rahasia Kantin STISIP Widuri

penulis

Persatuan Wujudkan Kemenangan

Tim Kontributor

Fadil Jaidi Galang Dana untuk Banjir Kalsel dan Gempa Majene

Tim Kontributor

Leave a Comment