Faktual.id
RAGAM INFO Traveling

Kota Tua Jakarta Peninggalan Belanda Yang Kini Menjadi Tempat Favorite Anak Millenial

Jakarta – Kota tua jakarta merupakan salah satu icon dari kota jakarta. Saat ini kota tua menjadi tempat bermain bagi masyarakat terutama bagi kalangan milenial.

Selain sebagai tempat bermain atau wisata, kota tua kini menjadi perburuan bagi kalangan millennial untuk berswafoto sebagai koleksi foto-foto mereka di media sosial, seperti instagram.

Namun siapa sangka kota tua yang di kenal sebagai kota yang unik dan menarik ternyata merupakan bangunan peninggalan pada masa kolonial belanda.

Kota tua saat ini telah di tetapkan sebagai salah satu kawasan cagar budaya yang ada di ibu kota jakarta.

Bangunan-bangunan bergaya kolonial dengan dominasi warna putih, hitam, dan hijau tua menghiasi kawasan kota tua.

Gedung-gedung berpilar besar menjulang tinggi, lengkap dengan jendela berukuran besar berdiri tegap seakan merayu para pengunjung untuk singgah sejenak terutama bagi kangangan anak-anak milenial saat ini.

Bagi penduduk jakarta, kota tua bukan kawasan wisata baru dan asing. Kota tua sudah menjadi bagian dari sejarah jakarta sejak lama.

Kota tua terletak di kelurahan pinangsia kecamatan tamansari kotamadya jakarta barat. Saat ini, kawasan kota tua berada di dua wilayah kotamadya, yaitu jakarta utara dan jakarta barat.

Kota tua sebagai cikal bakal jakarta, tentunya menyimpan banyak cerita di balik megahnya banguna-bangunan tersebut.

Kota tua berbatasan dengan sebelah utara dengan pasar ikan, pelabuhan sunda kalapa dan laut jawa, sebelah selatan berbatasan dengan jalan jembatan batu dan jalan asemka, sebelah barat berbatasan dengan kali krukut dan sebelah timur berbatasan dengan kali ciliwung.

Berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pelabuhan sunda kelapa. Pelabuhan sunda kelapa merupakan pelabuhan bersejarah jakarta yang telah menjadi pelabuhan utama kerajaan sunda sejak abad ke-13. 

Pelabuhan sunda kelapa berkembang pesat karena adanya perdagangan rempah-rempah internasional.

Kini di pelabuhan sunda kelapa terdapat kapal bugis phinisi schooner tradisional yang berlabuh di dermaga dengan gagah.

Di seberang pelabuhan sunda kelapa, terdapat museum bahari yang dulunya digunakan belanda sebagai gudang untuk menyimpan rempah-rempah. Tak jauh dari kota tua juga terdapat jembatan kota intan, yang kini dikenal juga sebagai jembatan pasar ayam.

Jembatan pasar ayam dibangun pada abad ke-17 dan membentang di atas kali besar. Dulunya, jembatan ini digunakan sebagai penghubung antara benteng belanda dengan benteng inggris yang dibuat oleh VOC.

Pada 1972, gubernur jakarta, ali sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan kota tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana

Di masa lalu kota tua jakarta merupakan kota rebutan yang menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya.

Tak heran jika mulai dari kerajaan tarumanegara, kerajaan sunda –pajajaran, kesultanan banten –jayakarta, verenigde oost-indische compagnie (VOC), pemerintah jepang, hingga kini republik indonesia melalui pemerintah dki jakarta, terus berupaya mempertahankannya menjadi kota nomor satu di negara ini.

Pada 1526, fatahillah, dikirim oleh kesultanan demak, menyerang pelabuhan sunda kelapa di kerajaan hindu pajajaran, kemudian dinamai jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional jawa.

Tahun 1619, voc menghancurkan jayakarta di bawah komando jan pieterszoon coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernamabatavia untuk menghormati batavieren, leluhur bangsa belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur sungai ciliwung, saat ini lapangan fatahillah.

Penduduk batavia disebut “batavianen”, kemudian dikenal sebagai suku betawi, terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni batavia. Pada 1635, kota ini meluas hingga tepi barat sungai ciliwung, di reruntuhan bekas jayakarta.

Kota ini dirancang dengan gaya belanda eropa lengkap dengan benteng (kasteel batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Kota batavia selesai dibangun tahun 1650.

Batavia kemudian menjadi kantor pusat voc di hindia timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk.

Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah weltevreden (sekarang daerah di sekitar lapangan merdeka).

Batavia kemudian menjadi pusat administratif hindia timur belanda. Tahun 1942, selama pendudukan jepang, batavia berganti nama menjadi jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota indonesia hingga sekarang.

Penulis : I Kadek Darmawan, Mahasiswa STISIP WIDURI

Related posts

5 Tempat Wisata di Tegal yang lagi Hits

Tim Kontributor

Sejarah Patung Si Gale-Gale

Tim Kontributor

Penyebaran Covid-19 di Melbourne Australia Naik

Tim Kontributor

Leave a Comment