Faktual.id
Komunikasi Politik POLITIK

Ini Dia Perbedaan Gestur Ketiga Capres Di Debat Perdana Semalam

Ketiga capres tersebut adu gagasan dan pandangan pada debat capres perdana Pilpres 2024 yang digelar di halaman kantor KPU, Jakarta Pusat, Kamis malam Tiga (12 Desember).

Tema yang diangkat dalam debat pertama capres selama 120 menit itu adalah pemerintahan, hukum, HAM, pemberantasan korupsi, penguatan demokrasi, peningkatan layanan publik, dan kerukunan warga.

Bukan hanya soal ide dan pendapat, gestur ketiganya Calon presiden, khususnya Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo juga menjadi sasaran khusus masyarakat, baik yang hadir di lokasi maupun menyaksikan liputan langsung melalui acara televisi maupun online.

Sepanjang debat berjalan, sejumlah gestur pun diperlihatkan oleh para Capres ketika menanggapi, mempertanyakan hingga menjawab perdebatan.

Berikut rangkuman analisis dari para pengamat kepada CNNIndonesia.com soal gestur para capres:

Anies Baswedan
Pakar Komunikasi Politik Telkom University, Adi Bayu Mahadian menilai Anies menampilkan gestur yang menunjukkan penguasaan diri di panggung debat.

“Kalau dilihat secara keseluruhan capres yang nampak paling menguasai panggung Pak Anies,” kata Adi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (13/12).

Adi menilai Anies dapat tampil dengan tenang dalam menjelaskan segala pertanyaan atas permasalahan yang dibahas dalam debat.

Kendati demikian, Adi menilai Anies masih belum berhasil menjelaskan permasalahan yang muncul di dalam debat secara konkret.

“Namun, Pak Anies belum membahas substansi debat itu sendiri yaitu tentang program, dan masih membahas masalah dan solusi secara konseptual,” jelas dia.

Lebih lanjut, Adi menilai Anies hendak menunjukkan gambaran diri sebagai seorang yang terpelajar.

Hal itu, kata dia, ditunjukkan dengan pemilihan penggunaan kemeja putih yang dibalut dengan jas serta kopiah hitam saat debat.

“Pak Anies menunjukkan sebagai politisi yang intelek dengan setelan jas dan peci,” ujar Adi.

Senada dengan Adi, Pakar Komunikasi Politik Universitas Brawijaya Verdi Firmantoro juga menilai Anies sebagai Capres yang runut dalam menyampaikan materi debat.

Verdi menyebut pendekatan Anies menggunakan pendekatan penyampaian pesan secara terstruktur (structuring style).

“Anies Baswedan lebih menggunakan strategi structuring style,” ujar Verdi, “Anies sangat tegas mengarusutamakan narasi perubahan.”

Lebih lanjut, Verdi menjelaskan simbol ‘Wakanda Forever’ yang ditampilkan Anies dalam pernyataan penutupan debat sebagai komunikasi penegasan.

Ia menilai Anies hendak memanfaatkan tren yang populer di sosial media untuk menyebarluaskan kritik. Terutama, kritik tentang kemerdekaan berpendapat.

“Gestur dan gaya bahasa yang ditampilkan Anies sebagai bentuk komunikasi asertif dan agresif,” kata Verdi.

“Anies menggunakan diksi yang populer di kalangan netizen sebagai representasi komunikasi yang menekankan kritik secara terbuka,” sambungnya.

Prabowo Subianto
Adi menilai gestur yang dibawakan Prabowo dalam debat Capres perdana 2024 ini tak jauh berbeda dengan debat yang pernah diikuti Prabowo dalam Pilpres sebelumnya.

Adi menyebut Prabowo kembali menunjukkan gestur komunikasi militeristik.

“Untuk Pak Prabowo, seperti biasa, beliau menggunakan bahasa militeristis dan intonasi yang terkesan keras,” ujar Adi.

Adi menjelaskan gestur Prabowo memperlihatkan kepercayaan diri atas pengalaman memimpin. Namun, kata dia, hal itu tak diimbangi oleh kemampuan retorika Prabowo.

“Namun sayang, Pak Prabowo tidak memiliki kemampuan berbahasa yang baik, yang berimplikasi pada minimnya ide dan gagasan dalam debat,” ujar dia.

Lebih lanjut, Adi menilai terdapat gestur yang menunjukkan Prabowo tak mampu mengontrol diri dengan baik.

Hal itu, kata dia, ditunjukkan dengan gestur Prabowo yang sempat menunjuk Anies dengan menggebu-gebu ketika berdebat.

“Untuk Pak Prabowo, nampak pengelolaan diri yang kurang terkontrol, dengan gerakan menunjuk-tunjuk tangan dalam intensi & repetisi, menunjukkan bahwa beliau melibatkan perasaan saat lawannya menyerang personanya,” ujar Adi.

Lebih lanjut, Pakar Komunikasi Politik Telkom University, Adi Bayu Mahadian menilai gestur Prabowo yang dinilai telah mulai ‘tak terkontrol’ terjadi saat ditanya oleh Anies terkait putusan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) terkait pengambilan putusan MK dalam syarat pencalonan cawapres.
“Beberapa bagian lagi Pak Prabowo nampak emosional. tapi pada bagian ini nampak Pak Prabowo awal lepas kontrol,” kata Adi.

Berbeda dengan Adi, Pakar Komunikasi Politik Universitas Brawijaya Verdi Firmantoro menilai gestur yang diperlihatkan Prabowo itu bukan sebagai ‘lepas kontrol diri’.

Verdi menilai gestur-gestur itu sebagai hiburan politik yang hendak ditunjukkan Prabowo. Menurut dia, Prabowo ingin mengubah pengemasan dirinya menjadi berbeda dari pilpres-pilpres yang telah ia ikuti sebelumnya.

“Gestur yang ditunjukkan Prabowo secara nonverbal bentuk entertain politik. Prabowo dalam konteks debat ini ingin menunjukkan tampilan branding politik yang berbeda dengan ajang Pilpres sebelumnya yang terkesan kaku dan formal,” ujar Verdi.

“Dengan memainkan intonasi dan mimik serta body communication, Prabowo terlihat bisa lebih meredam sisi emosional,” imbuhnya.

Gestur Ganjar

Adi menilai Ganjar berupaya memanfaatkan debat sebagai ajang menaikkan popularitas. Hal itu, kata dia, ditunjukkan Ganjar dengan pemilihan kemeja yang unik hingga sepatu kasual.

“Untuk Pak Ganjar, beliau nampak berupaya mengoptimalkan popularitas beliau, dengan kemeja bertuliskan “sat set” dan sepatu sneakers,” ujar Adi.

Pemilihan kemeja itu, menurut Adi, juga sebagai gestur Ganjar untuk menarik atensi pemilih muda. Ia ingin tampil lebih mencolok dibanding dua capres lainnya di panggung tersebut.

“Pak Ganjar, terlihat ingin menarik perhatian kelompok muda-remaja dengan berpakaian lebih ‘trendy’ ketimbang capres lainnya. berkemeja dengan sablonan ‘sat-set’ dan sepatu sneakers,” jelas Adi.

Dalam penyampaian debat, Adi menilai Ganjar berhasil membranding dirinya sebagai politisi dan birokrat yang mumpuni.

Kendati demikian, gestur Ganjar dinilai masih bimbang antara hendak melanjutkan pembangunan Jokowi atau merubah pembangunan itu.

“Beliau nampak bimbang memosisikan diri sebagai penerus presiden jokowi, atau pembawa perubahan,” jelas dia.

Senada dengan Adi, Verdi menilai pemilihan kemeja Ganjar sengaja dilakukan untuk memberikan citra bahwa dirinya bagian dari akar rumput.

Ia juga menilai gestur Ganjar tak sekontras Prabowo dan Anies yang berseberangan antara perubahan dan keberlanjutan.

“Menekankan citra orang lapangan yang kental “sat-set”, narasi grass root,” kata Verdi.

“Lebih moderat, tidak terlalu Jokowisentris tapi juga tidak menolak keberlanjutan,” sambungnya.

Debat perdana Pilpres 2024 itu digelar KPU di halaman kantor pusatnya yang memberi kesempatan pada tiga capres beradu argumen, gagasan, dan pandangan dengan tema pemerintahan, hukum, HAM, pemberantasan korupsi, penguatan demokrasi, peningkatan layanan publik dan kerukunan warga.

Dua jurnalis televisi yakni Ardianto Wijaya dan Valerina Dahniel menjadi moderator debat yang berlangsung selama 120 menit. Pertanyaan-pertanyaan buat para calon itu dibuat 11 panelis yang merupakan akademisi dari berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Disarikan Oleh ARS

Sumber

Related posts

Relawan KIB Siap Dukung AHY Jadi Cawapres Anies Untuk Pilpres 2024.

Tim Kontributor

Pks Usul Aher Jadi Cawapres Anies Untuk 2024

Tim Kontributor

Pas Bosmu Butuh Saya Emoh Lho, Balasan Yenny Wahid Atas Penolakan Jansen Jadi Cawapres Anies

Tim Kontributor

Leave a Comment