Faktual.id
EKONOMI

Inflasi China Gila Gilaan

Inflasi China lagi gila-gilaan, tertinggi sejak 26 tahun lalu. Inflasi tersebut terus mengikat selama empat bulan terakhir. Badan Statistik Nasional China mengungkapkan, data terbaru inflasi di Oktober 2021 terlihat dari Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) melonjak 13,5% pada Oktober.
“Pada bulan Oktober, kenaikan PPI meluas karena kombinasi faktor global yang diimpor dan ketatnya pasokan energi dan bahan baku domestik utama,” kata ahli statistik senior NBS Dong Lijuan dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Jumat (12/11/2021).

Dong menambahkan, 36 dari 40 sektor industri yang disurvei mengalami kenaikan harga termasuk lonjakan harga pertambangan batubara dan ekstraksi minyak serta gas alam.

Selain itu, Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI), ukuran utama inflasi ritel, meningkat 1,5% pada Oktober atau naik 0,7% pada September. “Ini karena efek gabungan dari cuaca yang tidak biasa, ketidaksesuaian permintaan dan pasokan produk tertentu, serta kenaikan biaya modal,” kata Dong.

Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Direktur Center of Economic and Law Studeis Bhima Yudhistira menyatakan, inflasi di China dapat berpengaruh pada ekonomi Indonesia dalam jangka pendek. Apalagi, tak jarang jual beli barang di Indonesia merupakan hasil impor asal China.

“Inflasi di China bisa memiliki transmisi ke ekonomi di Indonesia dalam jangka pendek. Mahalnya harga kebutuhan pokok, bahan baku dan harga energi akan mempengaruhi harga jual barang-barang impor asal China,” kata Bhima kepada detikcom.

Dia mengatakan, sedikit saja perubahan harga di tingkat produsen China maka harga yang akan sampai di tingkat konsumen Indonesia otomatis akan lebih mahal.

“Barang barang elektronik, pakaian jadi dan makanan jadi salah satu yang sensitif terhadap gangguan biaya produksi di China. Itu baru dari sisi barang impor ya,” ujarnya.

Bhima juga mengatakan, dampak yang lebih buruk bisa terjadi jika inflasi China mempengaruhi harga komoditas di Indonesia. Dia menyebut beberapa komoditas seperti Gandum dan Jagung.

“Misalnya harga gandum dilansir dari Tradingeconomics terpantau naik 9,5% dibanding bulan lalu. Disusul jagung yang naik 8,5% pada periode yang sama bisa mempengaruhi harga pakan ternak. Masalah bertambah kompleks karena ada ancaman La Nina yang membuat produksi pangan dalam negeri menurun,” jelasnya.

Atas penjelasan tersebut, Bhima meminta agar pemerintah memastikan stok pangan dalam negeri tercukupi. Sedangkan di sisi pengusaha, ia menyarankan untuk mulai mengamankan bahan baku atau mencari alternatif lain.

“Jadi pemerintah harus siap sedia ya amankan stok pangan. Untuk pengusaha diminta amankan bahan baku atau cari alternatif yang lebih murah,” pungkasnya.

Disarikan oleh P.

SUMBER

Related posts

Elon Musk Sedang Menjilat China

Tim Kontributor

Covid-19 tidak mempengaruhi pedagang Pasar Kaget

penulis

Mulai 30 Januari Tarif Tol BORR naik? Ini dia Rinciannya

Tim Kontributor

Leave a Comment