Faktual.id
RAGAM INFO

BADUY BUKAN TEMPAT WISATA TETAPI TEMPAT BELAJAR

Pagi itu saya diajak Ayah Arpah untuk ke ladang, memanen padi gogo. Jenis padi yang ditanam di ladang, yang umur panennya 6 bulan. Kalau padi sawah Cuma 3 bulan. Masih dengan tangkainya, bulir-bulir padi ini kami bawa pulang ke rumah di kampung Baduy, dijemur bersusun dalam semacam tiang bambu berbentuk segitiga sampai kering kemudian disimpan dalam lumbung padi di pojokan kampung. Di dekat lumbung ini, biasanya para wanita akan menumbuk gabah dalam lesung. Kadang mereka menumbuk beramai-ramai dan menghasilkan irama perkusi yang indah di telinga. Saudara-saudara Baduy ini menanam padi di ladang tanpa menggunakan pupuk kimia, juga tidak melakukan mekanisasi pertanian.

Dilain waktu, saya diajari bagaimana menangkap ikan dengan bubu, secukupnya saja. Juga berbagai tanaman obat dan tanaman yang bisa dimakan di sekitaran hutan. Saya makan apa yang mereka makan, tidur ditempat mereka tidur, dan melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka. Ayah Arpah juga mengajari beberapa pantangan dan kearifan lokal lain yang mereka percayai, dan dilakukan masyarakat Baduy. Bagaimana mereka memperlakukan alam yang sudah memberi mereka hidup dan kehidupan. Saya betah di kampung Baduy ini, tenang, nyaman, dan jauh dari hiruk pikuk kota. Mereka semua bahagia.

Tahun 2020 kemaren sempat heboh wacana bahwa masyarakat Baduy akan menutup kampung mereka untuk wisatawan. Ini timbul akibat keresahan mereka terhadap wisatawan yang datang ke Baduy yang semakin banyak, dan tidak lagi meghormati dan menghargai norma-norma dan peraturan adat yang ada disana. Para wisatawan ini selain melanggar adat, juga banyak membawa dan memasukkan teknologi dan barang-barang produksi luar ke dalam Baduy. Selain itu yang saya sesalkan, banyak para wisatawan ini yang menjadikan masyarakat Baduy sebagai obyek tontonan. Banyak yang memotret di Badui Dalam, nyolong-nyolong, melanggar aturan adat seperti kencing dan buang air besar di sungai, dll. Tahun 2019 lalu 5 anak sekolah tenggelam di salah satu sungai di Baduy.

Dulu ketika saya bersilahturahmi ke Ayah Arpah di Baduy, juga mengunjungi Kampung Naga di Garut dan berpetualang ke waerebo saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur, tujuan saya adalah untuk belajar. Bukan untuk berwisata, apalagi menjadikan mereka ini obyek tontonan. Pola pikir, kriya, budaya dan kearifan lokal mereka ini lebih luhur dan tinggi dari kita. Dengan pola para wisatawan yang menganggap suku Baduy sebagai obyek wisata, datang membawa budaya luar kedalam Badui, menjadikan mereka obyek tontonan, dan melanggar aturan adat yang ada disana, saya setuju kalau Baduy ditutup untuk para wisatawan.

Di Baduy, ada beberapa pitutur yang bisa dipelajari, seperti tulisan berikut ini:

buyut nu dititipkeun ka puun (buyut yang dititipkan kepada puun)

nagara satelung puluh telu (negara tiga puluh tiga)
bangsawan sawidak lima (sungai enam puluh lima)
pancer salawe nagara (pusat dua puluh lima Negara)
gugung teu meunang dilebur (gunung tak boleh dihancur)
lebak teu meunang diruksak (lembah tak boleh dirusak)
larangan teu meunang ditempak (larangan tak boleh dilanggar)
buyut teu meunang dirobah (buyut tak boleh diubah)
lojor teu meunang dipotong (panjang tak boleh dipotong)
pondok teu meunang disambung (pendek tak boleh disambung)
nu lain kudu dilainkeun yang bukan harus ditiadakan)
nu ulah kudu diulahken (yang lain harus dipandang lain)
nu enya kudu dienyakeun (yang benar harus dibenarkan)
mipit kudu amit (mengambil harus pamit)
ngala kudu menta (mengambil harus minta)
ngeduk cikur kudu mihatur (mengambil kencur harus memberitahukan yang punya)
nyokel jahe kudu micarek (mencungkil jahe harus memberi tahu)
ngagedag kudu beware (mengguncang pohon supaya buahnya berjatuhan harus memberitahu terlebih dulu)
nyaur kudu diukur (bertutur harus diukur)
nyabda kudu diunggang (berkata harus dipikirkan supaya tidak menyakitkan)
ulah ngomong sageto-geto (jangan bicara sembarangan)
ulah lemek sadaek-daek (jangan bicara seenaknya)
ulah maling papanjingan (jangan mencuri walaupun kekurangan)
ulah jinah papacangan (jangan berjinah dan berpacaran)
kudu ngadek sacekna (harus menetak setepatnya)
nilas saplasna (menebas setebasnya)

akibatna (akibatnya)
matak burung jadi ratu (bisa gagal menjadi pemimpin)
matak edan jadi menak (bisa gila menjadi menak)
matak pupul pengaruh (bisa hilang pengaruh)
matak hambar komara (bisa hilang kewibawaan)
matak teu mahi juritan (bisa kalah berkelahi)
matak teu jaya perang (bisa kalah berperang)
matak eleh jajaten (bisa hilang keberanian)
matak eleh kasakten (bisa hilang kesaktian)

 

Salam – Anak Suku Jawa Yang Memegang Erat Budaya Eropa (by Mahasiswa Stisip Widuri)

 

Related posts

Review Aplikasi Inshot, Aplikasi Paling Banyak Digunakan Edit Video dan Foto

Tim Kontributor

Dampak Buruk Kurang Minum Air Mineral Bagi Kesehatan

penulis

Besok Di perkirakan Puncak Arus Balik Setelah Libur Panjang

Tim Kontributor

Leave a Comment