Faktual.id
Bisnis RAGAM INFO

Anies Klaim Corona di Jakarta Melandai Sejak Penerapan PSBB Ketat

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan memperketat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 13 September 2020. Langkah ini diambil untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona di Ibu Kota.

Sesuai janji, kebijakan itu berlaku dua pekan dan kemudian dikaji kembali. Setelah dikaji, Anies memutuskan untuk kembali memperpanjang PSBB ketat hingga 11 Oktober 2020 nanti. Artinya berbagai pembatasan yang berlaku selama dua pekan terakhir masih harus ditaati oleh warga Ibu Kota.

Selama penerapan PSBB ketat, Anies mengklaim bahwa penularan virus corona di Jakarta mulai melandai atau menurun.

“Dalam rapat koordinasi terkait antisipasi perkembangan kasus Covid-19 di Jabodetabek, Menko Kemaritiman dan Investasi (Marives) menunjukkan data bahwa DKI Jakarta telah melandai dan terkendali, tetapi kawasan Bodetabek masih meningkat, sehingga perlu penyelarasan langkah-langkah kebijakan. Menko Marives juga menyetujui perpanjangan otomatis PSBB DKI Jakarta selama dua minggu,” ungkap Anies seperti dikutip dari siaran tertulis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Dalam penerapan PSBB ketat, restoran tidak boleh melayani pengunjung untuk makan-minum di tempat. Pusat perbelanjaan harus membatasi pengunjung maksimal 50%. Pegawai yang masuk kantor dibatasi maksimal 25%. Denda Rp 250.000 bagi yang tidak memakai masker di tempat umum. Tidak boleh berkumpul lebih dari lima orang. Dan lain-lain, dan sebagainya, et cetera.

Sebelum PSBB model begini diterapkan, Jakarta memberlakukan yang namanya PSBB Transisi. Ini adalah PSBB yang lebih longgar dibandingkan yang berlaku pada April-Mei. Seiring pelonggaran PSBB, intensitas kontrak dan interaksi antar-manusia meningkat. Akibatnya penyebaran virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) semakin cepat dan luas.

Melihat klaim Anies ini, apakah benar kasus corona di Jakarta melandai? Berikut data penyebaran virus corona di DKI Jakarta.

Per 24 September, jumlah pasien positif corona di Jakarta tercatat 66.731 orang. Bertambah 1.044 orang (1.59%) dibandingkan sehari sebelumnya.
Dalam dua pekan terakhir (11-24 September), rata-rata pasien baru bertambah 1.147 orang dalam sehari. Naik dibandingkan 14 hari sebelumnya yaitu 1.033 orang.

Dari sisi jumlah orang memang masih ada kenaikan. Namun benar kata Anies, pertumbuhannya melambat alias melandai.

Dalam 14 hari terakhir, laju penambahan pasien rata-rata 1,99% per hari. Turun dibandingkan 14 hari sebelumnya yaitu 2,43% per hari. Lumayan, kurva kasus corona di Jakarta memang melandai meski belum signifikan.

Tanpa PSBB yang lebih ketat, Anies menyebut bahwa kasus corona di Jakarta akan meledak. Bisa jadi penambahan pasien bisa mencapai 2.000-an per hari pada pertengahan Oktober jika tidak ada upaya pengendalian.

“Kita masih harus terus bekerja bersama untuk memutus mata rantai penularan. Pemerintah terus tingkatkan 3T (testing, tracing, treatment) dan warga perlu berada di rumah dulu, hanya bepergian bila perlu sekali dan terapkan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan),” kata Anies.

Sumber : 

“Tulisan ini adalah bagian dari tugas dan pembelajaran kelas Managemen Media Digital. Apabila ada kesalahan atau kekurangan mohon di maafkan”. Lutvinda Bariq/MMD1

Related posts

Pasien Ini Kehilangan Indera Pendengarannya Karena Terinfeksi COVID-19

Tim Kontributor

500 Ribu Hiu Terancam dibunuh untuk Vaksin Covid-19

Tim Kontributor

Bayar Bandros Kini Bisa Pakai Gopay

Kontributor

Leave a Comment