Faktual.id
Komunikasi PolitikPOLITIKPolitik Dalam Negri

GMNI Jakarta Pusat kembali menggelar aksi unjuk rasa jilid II sebagai bentuk protes

Jakarta – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Pusat kembali menggelar aksi unjuk rasa jilid II sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Mengusung tema “Rakyat Menjerit, Saatnya Reformasi Jilid II?”, aksi yang berlangsung di kawasan Jakarta Pusat tersebut menyoroti berbagai persoalan ekonomi dan kebijakan nasional yang dinilai semakin membebani masyarakat pada hari jumat 12 Juni 2026.

Dalam orasinya, massa aksi menilai bahwa cita-cita Reformasi 1998 untuk mewujudkan Indonesia yang demokratis serta terbebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme masih belum sepenuhnya tercapai. Kondisi tersebut, menurut mereka, semakin diperparah oleh tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat akibat berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap kurang berpihak kepada rakyat.

Kenaikan harga BBM menjadi salah satu sorotan utama dalam aksi tersebut. Sebagai kebutuhan strategis yang memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, hingga biaya produksi, kenaikan harga energi dinilai berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

Ketua GMNI Jakarta Pusat, *Krens Betekeneng*, menegaskan bahwa negara harus bertanggung jawab terhadap situasi ekonomi nasional yang sedang dihadapi rakyat.

“Pemerintah dinilai terlalu lambat menyiapkan stimulus struktural untuk menghadapi tekanan ekonomi. Kenaikan harga BBM dilakukan di tengah kondisi ekonomi global yang sedang mengalami tekanan berat, sementara nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat,” ujarnya dalam orasi.

GMNI Jakarta Pusat juga mendesak pemerintah agar tidak menyerahkan sepenuhnya kebijakan harga energi kepada mekanisme pasar. Selain itu, organisasi mahasiswa tersebut menuntut adanya jaring pengaman sosial yang lebih konkret guna melindungi kelompok masyarakat rentan dari dampak kenaikan harga kebutuhan hidup.

Tidak hanya isu BBM dan nilai tukar rupiah, aksi tersebut juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai bermasalah dalam pelaksanaannya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta sejumlah program lainnya disebut berpotensi menjadi celah penyimpangan dan praktik korupsi apabila tidak diawasi secara ketat.

Menurut Krens, kritik terhadap situasi nasional saat ini berpusat pada beberapa persoalan utama, yakni pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya harga kebutuhan pokok, kebijakan pemerintah yang dianggap tidak efisien dalam penggunaan anggaran negara, serta polemik terkait revisi Undang-Undang TNI dan Undang-Undang Polri yang hingga kini masih menuai kritik dari berbagai kalangan masyarakat sipil.

Aksi unjuk rasa berlangsung hingga pukul 21.30 WIB. Massa menyampaikan orasi secara bergantian sebelum akhirnya menutup kegiatan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kegiatan berlangsung tertib dan kondusif. Setelah aksi berakhir, massa membubarkan diri dengan damai serta menyatakan akan kembali melakukan aksi lanjutan sebagai bentuk pengawalan terhadap berbagai isu yang mereka suarakan.

Related posts

Lurah di Depok yang Gelar Hajatan Saat PPKM Darurat Dicopot !

Tim Kontributor

Melihat Kembali Terciptanya Ruu Omnibus Law pada Saat Virus Covid-19 Menyerang

Tim Kontributor

Dua Partai Pendukung 01 Ini Diprediksi Akan Dapat Jatah 2 Menteri Dari Prabowo

Tim Kontributor